Rindu di Hari Kemenangan

Foto: Ilustrasi

Oleh : Abd Malik Jais Doa

 

MAMA,
hari puasa telah usai,
Lebaran telah tiba.

Takbir menggema di langit malam,
mengantar hari kemenangan yang sebentar lagi datang.
Lampu-lampu menyala,
orang-orang sibuk menyiapkan kebahagiaan.

Baju baru digantung rapi,
jalan-jalan penuh langkah yang bergegas pulang,
tawa berjatuhan di setiap sudut kota.

Tapi tidak denganku, Mama…

Aku terdiam di pojok kamar,
duduk memeluk sepi,
membiarkan air mata jatuh tanpa suara.

Aku bertanya dalam diam,
bagaimana aku harus menyambut esok,
tanpa engkau di sisiku?

Pagi nanti mereka akan berlari,
dengan wajah bersih dan hati yang ringan,
menuju lapangan, menunaikan salat Id
dengan senyum yang utuh.

Lalu mereka akan pulang,
mencium tangan ibu mereka,
yang menunggu hangat di rumah.

Sedangkan aku, Mama…

Aku hanya bisa melangkah pelan,
menuju tanah yang masih basah,
makam baru yang belum kering oleh waktu.

Di sanalah aku bersujud dalam rindu,
mencium tanah yang memelukmu,
sambil berbisik lirih
“Mama, mohon maaf lahir dan batin…”

Tak ada pelukan,
tak ada suara lembutmu,
hanya sunyi yang menjawab doaku.

Hari ini orang-orang menyebutnya kemenangan,
tapi bagiku, Mama…

ini adalah hari paling sunyi
yang pernah aku rayakan tanpamu, Mama…

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan