Halua Kenari Desa Suma: Tradisi Kuliner Turun-Temurun yang Menopang Ekonomi Lokal

Foto: Rudi Ruhiat (Desain Indomalut.com)

IndoData – Desa Suma merupakan salah satu desa di Kecamatan Pulau Makeang yang dikenal sebagai sentra produksi makanan khas tradisional halua kenari. Keberadaan kuliner ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi geografis desa yang didominasi oleh pohon kenari, yang tumbuh subur dari wilayah pesisir hingga kawasan pegunungan. Pohon kenari telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Suma sejak ratusan tahun lalu dan diwariskan secara turun-temurun lintas generasi.

Usaha kuliner halua kenari di Desa Suma tergolong sebagai usaha rumah tangga, yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat, terutama kaum perempuan, sementara karakter dasar produksi halua kenari tetap mempertahankan metode tradisional dengan peralatan sederhana.

Awalnya, halua kenari tidak diposisikan sebagai komoditas ekonomi. Produk ini hanya diproduksi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Perubahan orientasi produksi mulai terjadi ketika masyarakat Desa Suma memanfaatkan pelabuhan desa sebagai ruang ekonomi baru untuk memasarkan hasil olahan halua kenari ke luar wilayah.

Sekretaris Desa Suma Rauf Hi. Soleman menjelaskan bahwa sebelum tahun 1980-an, masyarakat belum menjadikan halua kenari sebagai sumber mata pencaharian.

“Sekitar tahun 1980-an, orang tua terdahulu kami belum memanfaatkan halua kenari sebagai mata pencaharian. Mereka memanfaatkan halua kenari sebagai makanan sehari-hari, dan biasanya juga dijadikan sebagai camilan atau oleh-oleh untuk keluarga di luar daerah,” Rauf.

Tradisi yang Bertahan Lintas Generasi

Salah satu pelaku usaha yang masih bertahan hingga saat ini adalah Ibu Salma, yang meneruskan usaha keluarga sejak awal tahun 2000-an. Sebelumnya, orang tua Ibu Salma telah memproduksi halua kenari sejak tahun 1980-an. Keberlanjutan usaha ini tidak terlepas dari faktor geografis Desa Suma yang memiliki populasi pohon kenari dalam jumlah besar.

Menurut Ibu Salma, pohon kenari telah tumbuh di Desa Suma jauh sebelum generasi sekarang lahir. “Pohon kenari telah lama tumbuh di Desa Suma sejak orang tua kami belum lahir. Populasi pohon terbanyak di desa ini adalah kenari. Sekitar tahun 1960-an, nenek moyang kami sudah memanfaatkan pohon kenari sebagai kebutuhan hidup mereka. Lalu sekitar tahun 1984, saat kami masih sekolah dasar, orang tua kami mulai membuat halua kenari dengan alat yang sangat sederhana,” tuturnya.

Dalam proses pembuatan halua kenari, alat dan bahan yang digunakan hingga kini masih tergolong sederhana. Namun dari sisi ekonomi, usaha ini memberikan dampak yang cukup signifikan bagi pemenuhan kebutuhan rumah tangga masyarakat. Produksi halua kenari secara perlahan membuka peluang pasar yang lebih luas dan memberikan kontribusi nyata terhadap ekonomi lokal Desa Suma.

Usaha Rumah Tangga dan Pemanfaatan Kenari

Usaha halua kenari di Desa Suma bukanlah industri berskala besar atau perusahaan formal. Sebaliknya, usaha ini berbasis rumah tangga dan dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Hampir di setiap rumah di Desa Suma, masyarakat memproduksi halua kenari sebagai pekerjaan sehari-hari.

Biji kenari sebagai bahan dasar sebenarnya memiliki beragam manfaat. Sebagian masyarakat mengolahnya menjadi selai kue, sambal yang oleh warga setempat disebut dabu dabu kenari dan berbagai olahan lainnya. Namun, mayoritas masyarakat lebih memilih mengolah biji kenari menjadi halua kenari karena dinilai memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan permintaan pasar yang stabil.

Halua kenari tidak hanya dikenal karena rasanya yang lezat, tetapi juga karena harganya yang relatif mahal dibandingkan olahan kenari lainnya. Kondisi ini membuat halua kenari menjadi produk unggulan Desa Suma.

Panen Kenari: Pengetahuan Lokal yang Bertahan

Buah kenari dipanen ketika telah menunjukkan tanda-tanda kematangan, yakni perubahan warna kulit luar menjadi hitam atau hitam tua dengan bintik kekuningan. Jika buah yang telah matang tidak segera dipanen, hama dapat merusak hasil panen dan menyebabkan kerugian bagi petani.

Masyarakat Desa Suma biasanya melakukan panen pada bulan Agustus dan Desember. Alat panen yang digunakan berupa tombak tradisional dari bambu sepanjang 3–4 meter.

Petani kenari Suryadi Ruslan menjelaskan bahwa teknik panen harus dilakukan dengan benar. “Buah harus dipetik di tangkainya, atau dalam bahasa Makeang disebut niawa. Kenari yang sudah tua harus dipanen semuanya. Jika tidak, hasil panen pada musim berikutnya akan berkurang. Biasanya satu kali panen bisa menghasilkan lima sampai enam karung,” ujarnya.

Foto: Rudi (Desain Indomalut.com)

Satu pohon kenari dapat dipanen selama satu hingga dua hari, tergantung ukuran pohon dan jumlah buah. Setelah dipetik, buah kenari dikumpulkan, dimasukkan ke dalam karung atau keranjang, lalu dibawa pulang dengan cara dipikul, yang oleh masyarakat setempat disebut lapowo.

Alat dan Bahan Produksi Halua Kenari

Dalam proses produksi halua kenari, masyarakat masih menggunakan peralatan sederhana, seperti batu tumbuk, bokor (baskom), kompor, wajan (balanga), spatula besi (aru-aru), sendok makan (leper), plastik es sebagai kemasan, dan korek api untuk menutup kemasan.

Bahan utama tetap terdiri dari biji kenari dan gula pasir. Penggunaan gula pasir menjadi ciri khas halua kenari Desa Suma, berbeda dengan desa lain yang menggunakan gula merah.

Foto: Rudi (Desain Indomalut.com)

Pelaku usaha Rohani Jumati menjelaskan bahwa racikan tersebut menghasilkan rasa khas.

“Halua kenari di Desa Suma memiliki rasa manis dan gurih karena terbuat dari campuran biji kenari dan gula pasir. Kami tidak menggunakan gula merah, sehingga rasanya tidak lengket,” jelasnya.

Skala Produksi yang Signifikan

Setiap pelaku usaha rata-rata mampu menghasilkan sekitar 100 buah halua kenari per hari. Pada musim panen, produksi dapat meningkat hingga 200 buah per hari. Jika diakumulasikan, dengan sekitar 20 pelaku usaha aktif, maka total produksi harian dapat mencapai 4.000 buah halua kenari. Dalam satu bulan, jumlah produksi bisa mencapai 120.000 buah.

Foto: Rudi (Desain Indomalut.com)

Jumlah tersebut terbilang sangat besar untuk sebuah desa kecil dengan sistem produksi tradisional. Hasil produksi kemudian diperdagangkan di berbagai lokasi, terutama di pelabuhan Desa Suma, Kecamatan Pulau Makeang, serta beberapa wilayah lain.

Pemasaran: Dari Pelabuhan hingga Media Sosial

Setelah produksi, tahapan berikutnya adalah pemasaran. Penjualan halua kenari dilakukan untuk menopang ekonomi keluarga sekaligus mempromosikan kuliner khas Desa Suma. Mayoritas pelaku usaha menjual halua kenari di titik-titik keramaian, terutama di pelabuhan speed dan pelabuhan feri Desa Suma.

Pendapatan sebelum operasional kapal feri berkisar Rp50.000–Rp60.000 per hari. Namun setelah kapal feri beroperasi, pendapatan meningkat hingga Rp100.000–Rp200.000 per hari, tergantung jumlah penumpang.

Jika dihitung secara bulanan, pendapatan pedagang halua kenari dapat mencapai sekitar Rp6.000.000 per bulan, atau Rp72.000.000 per tahun.

Sebagian pedagang juga telah merambah pasar luar Pulau Makeang, terutama di Kota Ternate, dengan lokasi penjualan di Pelabuhan Bastiong dan terminal. Pendapatan di Ternate bahkan dapat mencapai Rp600.000 hingga Rp1.000.000 per hari.

Foto: Rudi (Desain Indomalut.com)

Seiring perkembangan teknologi, pemasaran halua kenari mulai beralih ke media sosial seperti WhatsApp dan Facebook. Meski demikian, keterbatasan pemahaman teknologi informasi masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha.

Dari Warisan Tradisi ke Ketahanan Ekonomi

Bagi Rauf, halua kenari bukan hanya makanan, tetapi juga simbol budaya dan identitas masyarakat.

“Kalau orang dengar kenari atau halua kenari, yang mereka pikirkan pasti Desa Suma,” ujarnya.

Ia menjelaskan, meski Suma adalah desa pesisir, sumber daya alamnya luar biasa, terutama populasi kenari yang terbanyak di Provinsi Maluku Utara. Karena itu, ia berharap pemerintah kabupaten dan provinsi memberi perhatian lebih terhadap pengembangan usaha ini.

“Pemerintah sebaiknya bantu fasilitas budidaya dan produksi supaya bisa meningkatkan ekonomi desa, bahkan bisa go internasional,” harap Rauf. (Rud/Abd)