Dari Pesisir ke Panggung Indo-Pasifik

Foto: Istimewa (Desain: Indomalut.com)

Oleh: Maulana Ikram

 

ADA buku yang rapi seperti laporan, ada pula buku yang sengaja lahir sebagai “suara”. Catatan Anak Pinggiran Bibir Pasifik Barat kary Muhammad Asmar Joma berada pada jenis kedua. Sejak bagian awal, Joma menempatkan Maluku Utara dan kepulauan sebagai titik pijak, bukan sekadar latar.

Ia menggambar satu pertanyaan yang terus bergaung di bagian awal pembahasan, “Di manakah tempat kita dalam peta besar dunia ini”  Pertanyaan itu lalu menuntun pembaca masuk ke jalur besar yang sering terasa jauh dari kampung pesisir, yakni geopolitik Indo-Pasifik, jaringan kekuasaan global, hingga krisis iklim. Tetapi yang membuatnya berbeda, isu-isu “besar” itu dibawa pulang ke dermaga, ke ruang hidup warga pulau, dan ke pengalaman menjadi pinggiran yang kerap diperlakukan seolah tidak ada.

Struktur buku bergerak melalui bagian-bagian tematik. Di “Bagian Pertama” ia mengantar pembaca ke pusaran Indo-Pasifik; di “Bagian Kedua” selat, laut, dan arus kuasa global mulai diperinci,s lalu “Bagian Ketiga” menggeser fokus ke perlawanan sunyi melalui tulisan.

Ketika sampai pada “Bagian Keempat” tentang dunia digital, buku ini menjadi makin aktual, karena Joma menolak melihat internet sebatas fasilitas. Kalimatnya tegas, “Dunia digital membawa kekuasaan, dan siapa yang menguasai informasi, menguasai masa depan”.

Bagi pembaca perkotaan, itu mungkin terdengar biasa. Namun dalam konteks kepulauan, pernyataan tersebut terasa seperti peta baru, sebab akses informasi bukan hanya soal hiburan dan gawai, melainkan soal posisi tawar, kecepatan belajar, dan peluang melompat melewati dinding pusat-pinggiran.

Klaim paling kuat buku ini adalah penolakannya terhadap cara pandang yang menganggap wilayah kepulauan sebagai “aksesori” negara. Dalam satu bagian, Joma menulis dengan nada getir namun jernih bahwa kawasan seperti Maluku Utara kerap “dianggap ‘ruang kosong’ di dalam kebijakan strategis” Kalimat ini bekerja sebagai kritik struktural, pinggiran tidak sekadar kekurangan perhatian, melainkan diproduksi melalui bahasa kebijakan, logika keamanan, dan prioritas pembangunan.

Dari situ pembaca diajak melihat bagaimana geopolitik tidak selalu hadir dalam bentuk kapal perang atau peta militer, tetapi juga dalam keputusan investasi, pengaturan ruang laut, dan siapa yang suaranya dianggap sah dalam rapat-rapat “strategis”.

Pada titik tertentu, buku ini menguat karena mampu mengubah konsep abstrak menjadi ukuran yang lebih manusiawi. Misalnya saat membahas kedaulatan. Penulis menolak kedaulatan yang berhenti sebagai simbol, “kedaulatan tidak hanya soal garis batas di peta”. Ia melanjutkannya dengan gagasan yang membumi, bahwa kedaulatan sejati berhubungan dengan keberlanjutan komunitas, laut yang tidak tercemar, dan hasil tangkapan yang cukup untuk hidup.

Di sini, kedaulatan menjadi kata kerja sosial, bukan sekadar klaim administratif. Tema yang sama berulang ketika ia menyinggung modernisasi. Alih-alih merayakannya sebagai kemajuan tanpa syarat, ia menulis, “modernisasi bukanlah keniscayaan netral, juga medan konflik nilai”.  Bagi pembaca muda, ini semacam peringatan halus bahwa teknologi dapat menjadi alat pembebasan sekaligus alat penaklukan, tergantung siapa yang mengendalikan arah dan manfaatnya.

Bagian yang terasa “global” sekaligus kritis muncul ketika buku masuk ke politik pengetahuan. Joma menulis lugas, “pengetahuan itu sendiri tidak lepas dari kuasa”. Ia mengaitkannya dengan bagaimana pengetahuan kelautan dapat dipakai negara dan korporasi untuk mengatur, mengeksploitasi, dan mengontrol sumber daya, sementara pengetahuan lokal yang diwariskan komunitas sering dianggap tidak ilmiah atau tidak layak jadi dasar kebijakan.

Perspektif ini penting karena memperlihatkan bahwa ketidakadilan tidak hanya terjadi pada distribusi uang dan infrastruktur, tetapi juga pada distribusi otoritas epistemik, siapa yang boleh mendefinisikan “masalah”, dan siapa yang berhak menawarkan “solusi”.

Ketika buku sampai pada krisis iklim, nada moralnya makin tebal. Joma menolak cara pandang yang menjadikan iklim sekadar grafik, “perubahan iklim bukan sekadar angka di laporan ilmiah”. Ia menurunkannya ke rumah, perahu, ladang, dan laut, sehingga krisis iklim tampil sebagai pengalaman harian, bukan sekadar konferensi global.

Lalu, pada bagian penutup tentang masa depan kepulauan, ia memberi garis besar arah yang ingin diperjuangkan, yakni pergeseran posisi “dari pinggiran” ke panggung dunia (lihat “Masa Depan Kepulauan—Dari Pinggiran ke Panggung Dunia”). Di sinilah judul ulasan ini menemukan pijakannya: pesisir bukan tepi, melainkan salah satu pusat baru perdebatan Indo-Pasifik, iklim, dan keadilan.

Catatan kritisnya, bentuk esai reflektif membuat beberapa bagian melaju cepat pada klaim besar tanpa selalu ditopang data yang rinci. Pada isu-isu seperti konsesi, kerusakan pesisir, atau dampak kebijakan tertentu, buku ini akan lebih “menutup rapat” argumentasinya bila menyediakan contoh kebijakan spesifik, angka kunci, atau potret kasus yang lebih terukur.

Namun jika pembaca menempatkannya sebagai intervensi wacana dan undangan membangun keberanian intelektual dari pinggiran, kekuatan buku ini justru terletak pada energinya. Joma memberi bahasa untuk menyebut ketimpangan, sekaligus memberi dorongan untuk tidak pasrah pada peta yang dibuat orang lain.

Kesimpulan
Catatan Anak Pinggiran Bibir Pasifik Barat adalah buku yang mengajak pembaca melihat Indo-Pasifik dari sudut yang jarang dipakai, yakni dari kampung pulau, dari suara yang kerap dianggap “ruang kosong”. Ia cocok untuk mahasiswa, pegiat literasi, aktivis lingkungan, dan pembaca umum yang ingin memahami politik laut, digital, pengetahuan, dan iklim dengan cara yang dekat dan menyentuh, tanpa kehilangan keluasan isu globalnya.