Menjaga Nadi Ekonomi Ternate di Tengah Arus Hilirisasi

Foto: fauji Usman (Desain: Indomalut.com)

Oleh: Fauji Usman

 

DARI balik jendela kedai kopi di kawasan Tapak Panggung Swering, Gunung Gamalama berdiri kokoh, seolah menjadi penjaga setia aktivitas pelabuhan yang tak pernah benar-benar tidur. Di bawahnya, laut Maluku sibuk oleh lalu lalang feri dan speedboat, menghubungkan pulau-pulau dengan denyut ekonomi yang terus bergerak. Namun di balik rutinitas yang tampak biasa ini, Ternate sedang menghadapi tantangan besar: bagaimana tetap tegak sebagai pusat jasa dan perdagangan di tengah derasnya arus hilirisasi nikel yang mengalir ke pulau-pulau tetangga.

Maluku Utara kini menjelma primadona investasi global. Hilirisasi nikel di Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan mendongkrak pertumbuhan ekonomi provinsi ini jauh di atas rata-rata nasional. Kawasan industri seperti IWIP di Weda dan Harita di Obi menjadi simbol ledakan ekonomi baru. Namun, bagi Ternate yang secara geografis tak memiliki tambang pertanyaannya sederhana sekaligus krusial: apakah kota ini akan ikut menikmati limpahan manfaat, atau justru terjebak sebagai penonton di pinggir panggung?

Pergeseran Beban Ekonomi

Secara historis, Ternate adalah pusat gravitasi ekonomi Maluku Utara. Kota ini menjadi simpul perdagangan, jasa, dan distribusi sejak berabad-abad lalu. Namun, kehadiran kawasan industri besar di daratan Halmahera perlahan menciptakan kutub ekonomi baru yang menggeser keseimbangan lama.

Di satu sisi, Ternate masih berperan sebagai jantung logistik. Hampir seluruh arus barang dan jasa menuju lingkar tambang melewati kota ini. Namun di sisi lain, lonjakan permintaan dari kawasan industri justru memicu tekanan inflasi. Harga pangan di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Gamalama ikut terdongkrak, sementara daya beli masyarakat kota tak selalu mampu mengimbanginya.

Hilirisasi memang membawa uang dalam jumlah besar ke Maluku Utara. Tetapi bagi warga Ternate, efek domino industri ekstraktif itu sering kali terasa dalam bentuk kenaikan biaya hidup. Tantangan utama kota ini bukan sekadar pertumbuhan, melainkan bagaimana menjaga keadilan ekonomi agar warga tidak terpinggirkan di tanahnya sendiri.

Jasa dan UMKM sebagai Benteng Terakhir

Tanpa nikel di perut buminya, Ternate bertumpu pada sektor jasa, pariwisata, dan UMKM sebagai napas ekonomi. Kota ini perlahan bertransformasi menjadi pusat layanan bagi para pekerja tambang tempat berlibur singkat, mengakses layanan kesehatan, pendidikan, hingga hiburan di akhir pekan.

Hotel, pusat perbelanjaan, dan kafe modern tumbuh pesat. Namun pembangunan fisik saja tidak cukup. Ketahanan ekonomi Ternate justru terletak pada kekuatan produk lokal dan kreativitas warganya.

Upaya menghidupkan kembali hilirisasi rempah menjadi contoh penting. Pala dan cengkeh komoditas yang dahulu mengantarkan Ternate ke panggung dunia kini didorong untuk diolah menjadi produk turunan bernilai tambah. Ini adalah bentuk “hilirisasi tandingan” yang lebih berkelanjutan, karena berbasis pada sejarah, budaya, dan ekonomi rakyat.

Di saat yang sama, geliat ekonomi kreatif mulai terlihat. Anak muda Ternate memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan kopi olahan, fesyen bermotif lokal, hingga produk kriya, menyasar pasar ekspatriat dan pekerja profesional di lingkar tambang. Di sinilah peluang baru terbuka: menjadikan kreativitas sebagai sumber daya utama kota.

Menghindari Kutukan “Kota Mati”

Sejumlah ekonom mengingatkan bahaya Dutch Disease, ketika sektor non-tambang terabaikan karena seluruh sumber daya tersedot ke industri ekstraktif. Ternate tidak boleh lengah. Jika sektor pertanian di wilayah penyangga seperti Halmahera Barat dan Tidore melemah akibat alih fungsi lahan atau migrasi tenaga kerja ke tambang, maka Ternate akan menanggung beban inflasi pangan yang semakin berat.

Menjaga nadi ekonomi Ternate berarti menjaga keseimbangan antarsektor dan antardaerah. Pemerintah Kota Ternate dituntut lebih agresif membangun kerja sama antardaerah untuk menjamin pasokan pangan, menekan inflasi, dan memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan secara lebih merata.

Merawat Harapan di Bawah Gamalama

Di penghujung 2025, wajah Ternate masih menyimpan pesona: aroma rempah yang samar bercampur angin laut, kehidupan kota yang dinamis, dan sejarah panjang sebagai pusat peradaban. Hilirisasi nikel adalah keniscayaan zaman yang membawa modal besar, tetapi kemandirian ekonomi Ternate adalah harga mati.

Ternate tidak perlu memiliki lubang tambang untuk menjadi kaya. Dengan memperkuat posisinya sebagai pusat edukasi, kesehatan, jasa, dan ekonomi kreatif, kota ini tetap dapat menjadi “ibu” yang menghidupi Maluku Utara. Di bawah bayang-bayang Gunung Gamalama, harapan itu masih bisa dirawat agar nadi ekonomi rakyat terus berdenyut, meski deru mesin pabrik nikel terdengar dari seberang lautan.