Indomalut.com, TERNATE – Upacara Peringatan Hari Jadi Ternate (HAJAT) ke-775 menjadi penanda kuat perjalanan panjang sejarah Kota Ternate sebagai salah satu pusat peradaban tertua di Nusantara. Upacara yang digelar Pemerintah Kota Ternate bersama Kesultanan Ternate itu berlangsung khidmat di halaman Kadaton Kesultanan Ternate, Senin (29/12/2025).
Pelaksanaan HAJAT di jantung Kesultanan menegaskan bahwa Ternate lahir, tumbuh, dan berkembang dari sistem adat dan kekuasaan tradisional yang telah mengakar selama berabad-abad. Kadaton bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol peradaban, adat, dan identitas masyarakat Ternate.
Sejak masa lampau, Ternate dikenal dunia sebagai pusat perdagangan rempah, terutama cengkeh dan pala. Posisi strategis itu menjadikan Ternate episentrum pertemuan berbagai bangsa, mulai dari Eropa, Asia hingga Timur Tengah, sekaligus mengantarkan nama Ternate tercatat dalam sejarah global pada abad ke-15 hingga ke-17.
Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, mengatakan peringatan HAJAT bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi atas perjalanan sejarah panjang Ternate sebagai kota berperadaban.
“Ternate tumbuh dari peradaban besar yang diwariskan oleh kesultanan. Sejarah bukan hanya masa lalu, tetapi menjadi penopang arah masa depan,” ujar Tauhid dalam sambutannya.
Ia menegaskan, Kadaton Kesultanan Ternate memiliki makna simbolik sebagai pusat sejarah dan adat yang telah membesarkan Ternate selama ratusan tahun. Karena itu, Pemerintah Kota Ternate berencana menjadikan Kadaton sebagai lokasi permanen pelaksanaan HAJAT dengan seluruh rangkaian adatnya.
Dalam lintasan sejarah Maluku Kie Raha, Ternate dikenal sebagai salah satu kekuatan besar yang disegani. Dari wilayah ini, cengkeh diperdagangkan hingga ke Eropa dan Asia, menjadikan Ternate pusat perhatian kekuatan kolonial dunia.
Tauhid juga menyinggung peran Sultan Babullah, Pahlawan Nasional asal Ternate, yang memimpin perlawanan terhadap Portugis dan berhasil mengusir penjajah dari Ternate tanpa peperangan terbuka. Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah diplomasi dan kedaulatan Kesultanan Ternate.
Pada akhir 2025, pemerintah menetapkan 83 Cagar Budaya Peringkat Nasional di Kota Ternate, termasuk makam Sultan Babullah. Penetapan ini dinilai sebagai bentuk pengakuan negara atas nilai sejarah dan peradaban Ternate yang berkontribusi besar bagi perjalanan bangsa Indonesia.
Peringatan HAJAT ke-775 turut dirangkaikan dengan sejumlah ritual adat khas Kesultanan Ternate, seperti Kololi Kie Mote Kaha dan Kololi Kie Mote Ngolo yang melambangkan penjagaan wilayah darat dan laut, serta Doa Kie dan Fere Kie sebagai ikhtiar spiritual masyarakat.
“Sejarah Ternate adalah sejarah peradaban, diplomasi, dan budaya. Tugas kita bersama adalah merawat dan mewariskannya kepada generasi berikut,” kata Tauhid.
Melalui HAJAT ke-775, Kota Ternate kembali menegaskan jati dirinya, bukan sekadar sebagai kota modern, tetapi sebagai kota sejarah yang berdiri kokoh di atas warisan adat, kesultanan, dan budaya yang telah berusia ratusan tahun. ***












