Indomalut.com, Ternate — Dugaan praktik pungutan liar (pungli) dalam proses Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) di Universitas Khairun (Unkhair) Ternate mencuat ke publik. Seorang oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan kampus diduga meminta calon mahasiswa mentransfer uang sebesar Rp15.000 dengan iming-iming memberikan bocoran soal seleksi, Selasa (20/1).
Kasus ini terungkap setelah beredarnya sebuah video berdurasi 1 menit 3 detik di akun media sosial TikTok milik oknum ASN berinisial S. Dalam video tersebut, yang kini ramai diperbincangkan, oknum ASN itu secara terbuka mengarahkan calon mahasiswa untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening pribadinya dan mengirimkan bukti transfer melalui aplikasi WhatsApp.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unkhair, Arya Fitrah R. Nadjar, menilai tindakan tersebut telah menimbulkan keresahan di kalangan calon mahasiswa, khususnya di Maluku Utara.
“Ini bukan soal nilai rupiahnya, tetapi tindakan ini sudah mengarah pada pemerasan dan penipuan. Kami mendesak pimpinan Universitas Khairun untuk memberikan sanksi tegas karena perbuatan tersebut jelas melanggar kode etik ASN,” tegas Arya.
Dalam video yang sama, oknum ASN tersebut juga menyinggung jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) sebesar 20 persen dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) sebesar 40 persen, disertai janji kelulusan melalui pemberian soal bocoran SNPMB.
Arya menegaskan bahwa dugaan pungli tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara yang menjunjung tinggi prinsip integritas dan profesionalisme. Selain itu, tindakan tersebut juga melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 serta PP Nomor 42 Tahun 2004 tentang disiplin dan kode etik ASN.
Ia mengingatkan bahwa seluruh tahapan SNPMB bersifat gratis dan tidak dipungut biaya apa pun.
“Praktik seperti ini mencederai dunia pendidikan dan merusak kepercayaan publik terhadap institusi perguruan tinggi,” ujarnya.
BEM FIB Unkhair menyatakan akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Mereka juga mengancam akan menggelar aksi besar-besaran dengan melibatkan mahasiswa dalam jumlah besar apabila pihak rektorat tidak segera mengambil langkah tegas terhadap oknum yang bersangkutan. (*)












